SETIAP MUSLIM
AKAN MENGHADAPI UJIAN DAN COBAAN
Setiap Muslim akan menghadapi Ujian dan Cobaan
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ
وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ
أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ
الْأُمُورِ
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.
Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi
al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan
yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka
sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli
‘Imrân/3 : 186]
SEBAB TURUNNYA
Ayat ini diturunkan berhubungan dengan kisah yang terjadi di
pemukiman al-Hârits bin al-Khazraj (Madinah) sebelum perang Badar. Kaum
Muslimin ketika itu sedang berkumpul dengan kaum musyrikin dan orang-orang
Yahudi. Datanglah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke tempat itu dan
memberi salam. Di majlis tersebut, ada ‘Abdullâh bin Ubai bin Salûl, dia
berkata, “Janganlah kalian mengotori kami!” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam pun mengajak mereka untuk masuk ke dalam Islam dan membacakan al-Qur’ân
kepada mereka. ‘Abdullâh bin Ubai menyahut, “Wahai lelaki! Apa yang engkau
katakan bukanlah sesuatu yang bagus. Jika itu adalah sesuatu yang haq, maka
janganlah kamu mengganggu kami dengan perkataan itu! Kembalilah ke hewan
tungganganmu! Barang siapa mendatangimu, maka ceritakanlah perkataan itu!”
Perkataan itu sangat menyakitkan hati kaum Muslimin,
sehingga terjadilah pertengkaran di majlis itu antara mereka dengan orang-orang
kafir. Akhirnya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan mereka.
Setelah mereka tenang, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kembali ke
tunggangannya dan pergi. Setelah itu, Allâh Azza wa Jalla menurunkan ayat ini
yang berisi perintah untuk bersabar atas gangguan-gangguan orang-orang
kafir.[1]
TAFSIR RINGKAS
Syaikh ‘Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allâh
Azza wa Jalla mengabarkan dan mengatakan kepada kaum Mukminin bahwa mereka akan
diuji pada harta mereka melalui (perintah untuk) mengeluarkan nafkah-nafkah
wajib dan yang sunat serta terancam hilang harta untuk (berjuang) di jalan
Allâh Azza wa Jalla . (Mereka juga akan diuji) pada jiwa-jiwa mereka dengan
diberi berbagai beban berat bagi banyak orang, seperti jihad di jalan Allah
atau tertimpa penyakit.
(Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari
orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang
mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati) berupa
celaan terhadap kalian, agama, Kitab dan Rasul kalian … oleh karena itu, Allâh
Azza wa Jalla berkata, ‘Jika kamu bersabar dan bertakwa’ maksudnya, jika kalian
bersabar atas segala kejadian pada harta dan diri kalian berupa ujian, cobaan
dan gangguan dari orang-orang zhalim, serta kalian dapat bertakwa kepada Allâh
Azza wa Jalla dalam kesabaran itu dengan niat mengharap wajah Allâh Azza wa
Jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya, dan kalian tidak melampaui batas
kesabaran yang ditentukan oleh syariat, maksudnya tidak boleh bersabar atau
menahan diri pada saat syari’at mengharuskan membalas perlakuan musuh-musuh
Allâh Azza wa Jalla . (Maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang
patut diutamakan) artinya itu termasuk perkara yang harus didahulukan dan
dimeraihnya dengan berlomba-lomba. Tidak ada yang diberi taufik untuk dapat
melakukan ini kecuali orang-orang yang memiliki tekad kuat dan semangat tinggi.
Allah k berfirman, (artinya): ‘Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan
melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan
kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.[2][3]’ .”
Ujian Adalah Sunnah Kauniyah Pada Setiap Muslim
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ
Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu [Âli
‘Imrân/3: 186]
Ujian adalah sunnah kauniyah (ketetapan Allâh Azza wa Jalla
yang pasti terjadi) bagi setiap Muslim. Seorang Muslim tidak mungkin mengelak
dari ujian tersebut. Oleh karena itu, Allâh memberi penekanan pada firman-Nya لَتُبْلَوُنَّ dengan menggunakan
dua huruf (yaitu huruf lam dan nun yang bertasydid, sehingga makna kalimat
tersebut, kamu sungguh sungguh atau benar-benar akan diuji).”[4]
Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Firman Allâh (yang
artinya), “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu” seperti
firman-Nya (yang artinya) : Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu,
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillâhi wa
innâ ilaihi râji’ûn'[5] . Seorang Mukmin pasti akan diuji pada harta, jiwa,
anak dan keluarganya.”[6]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:
ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ
مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ
Demikianlah, apabila Allâh menghendaki niscaya Allâh akan
membinasakan mereka, tetapi Allâh hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian
yang lain [Muhammad/47: 4]
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَذْهَبُ
الدُّنْيَا حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ عَلَى الْقَبْرِ فَيَتَمَرَّغُ عَلَيْهِ وَيَقُولُ:
يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَكَانَ صَاحِبِ هَذَا الْقَبْرِ وَلَيْسَ بِهِ الدِّينُ إِلَّا
الْبَلَاءُ
Demi yang jiwaku berada di tangannya! Dunia ini tidak akan
fana, kecuali setelah ada seseorang yang melewati sebuah kuburan dan merenung
lama di dekatnya seraya berkata, ‘Seandainya aku dulu seperti penghuni kubur
ini.” Bukan agama yang mendorong dia melakukan ini namun hanya ujian saja” [7]
Kekokohan Iman Dan Kadar Ujian Selalu Berbanding Lurus
Semakin kuat iman seseorang, maka ujian yang akan diberikan
oleh Allâh akan semakin besar. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh Radhiyallahu anhu :
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ
بَلاَءً قَالَ الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ
عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ
فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ
“Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling
berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang
semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar
(kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat.
Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” [8]
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ
وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا
وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya
ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan
mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat
keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya[9]
Mengapa Allâh Azza wa Jalla Mengabarkan Bahwa Ujian Ini
Pasti Akan Terjadi?
Ada beberapa faedah yang bisa dipetik dari berita tentang
kepastian ujian pada kita, di antaranya:
1. Kita akan mengetahui bahwa ujian tersebut mengandung
hikmah Allâh Azza wa Jalla . Yakni, dapat dibedakan siapa Muslim yang imannya
benar dengan yang tidak.
2. Kita akan mengetahui bahwa Allâhlah yang menakdirkan
semua ini.
3. Kita bisa bersiap-siap untuk menghadapi ujian itu dan
akan bisa bersabar serta akan merasa lebih ringan dalam menghadapinya.[10]
Ujian Tidak Hanya Dengan Sesuatu Yang Buruk
Allâh Azza wa Jalla tidak hanya menguji seseorang dengan
sesuatu yang buruk. Akan tetapi, juga menguji seseorang dengan sesuatu yang
baik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ
بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan
menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan [al-Anbiyâ’/21 :
35]
Terkadang seorang Muslim apabila ditimpa dengan musibah dan
kesusahan, ia sanggup bersabar.Namun, begitu diberi kenikmatan yang berlebih,
terkadang ia tidak bisa lulus dari ujian tersebut. ‘Abdurrahmân bin ‘Auf
Radhiyallahu anhu pernah berkata:
ابْتُلِينَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالضَّرَّاءِ فَصَبَرْنَا ثُمَّ ابْتُلِينَا بِالسَّرَّاءِ
بَعْدَهُ فَلَمْ نَصْبِرْ
Kami diuji dengan kesusahan-kesusahan (ketika) bersama
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami dapat bersabar. Kemudian kami
diuji dengan kesenangan-kesenangan setelah beliau wafat dan kami pun tidak
dapat bersabar[11]
Ujian Adalah Rahmat Dari Allâh Azza Wa Jalla
Ujian yang diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla adalah rahmat
(kasih sayang) Allah Azza wa Jalla kepada seluruh manusia terlebih lagi untuk
kaum Muslimin.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ
مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ
Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar
kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan yang bersabar di antara kamu, dan
agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu [Muhammad/47:31]
Dengan adanya ujian itu, akan tampak orang yang benar-benar
beriman dengan yang tidak. Ini adalah rahmat dari Allâh Azza wa Jalla . Allâh
Azza wa Jalla berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ
يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)
mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?
[al-‘Ankabût/29:2]
Ujian Lain Yang Lebih Berat
Ternyata ada ujian yang lebih berat dari ujian pada harta
dan jiwa. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا
الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا
Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar gangguan yang
banyak yang menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu
dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allâh [Âli ‘Imrân/3 : 186]
Dengan penggalan ayat di atas, dapat diketahui ujian yang
lebih berat daripada ujian yang telah disebutkan. Ujian yang lebih berat dari
hal-hal tersebut adalah ujian yang menimpa agama (keyakinan) kita. Kalau kita
memperhatikan makna ayat yang kita bahas ini, maka kita akan menemukan bahwa
Allâh Azza wa Jalla telah mengurutkan ujian-ujian tersebut mulai dari yang
cobaan yang lebih ringan dan dilanjutkan ke cobaan yang lebih berat. Ujian pada
harta lebih ringan daripada ujian pada jiwa. Ujian pada jiwa lebih ringan
daripada ujian pada agama. Seseorang bisa saja memiliki harta yang melimpah dan
badan yang sehat, tetapi jika dia keluar dari agama Islam karena tidak tahan
menghadapi cemoohan, gangguan serta teror orang-orang kafir. Ini merupakan satu
bentuk kerusakan yang sangat besar baginya, baik di dunia maupun di akhirat.
Orang-Orang Kafir Tidak Akan Berhenti Mengganggu Kaum
Muslimin
Gangguan dari orang-orang kafir, baik berupa ejekan maupun
gangguan fisik, pasti akan terus ada. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ
يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ
مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ
Sebagian besar Ahli kitab karena kedengkian mereka
menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu
beriman, setelah nyata bagi mereka kebenaran. [al-Baqarah/2:109] [12]
Cara Menghadapi Segala Ujian
Allâh Azza wa Jalla tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya
terbengkalai, tidak terurus. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla mengajarkan
kepada kaum Muslimin bagaimana cara menghadapi ujian tersebut. Allâh Azza wa
Jalla berfirman:
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ
ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang
demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]
Menghadapi semua ujian harus dengan kesabaran dan ketakwaan.
Hukum bersabar dan bertakwa dalam menghadapi ujian bukan sunat, tetapi sesuatu
yang wajib dikerjakan oleh seluruh orang Muslim. Setidaknya, dalam al-Qur’ân
ada enam tempat di mana Allâh Azza wa Jallak menggabungkan kata kesabaran dan
ketakwaan dalam konteks yang sama. Yaitu, dalam surat Ali ‘Imrân ayat 118, 125,
dan 186, dalam surat Yûsuf ayat 90, dalam surat an-Nahl ayat 125 hingga 128 dan
surat Thâhâ ayat 132.[13] Ini menunjukkan bahwa kesabaran memiliki hubungan
yang sangat erat dengan ketakwaan.
Hasil Yang Didapatkan Dengan Bersabar
Orang yang dapat bersabar menghadapi semua ujian akan
memperoleh hal-hal yang terpuji, di antaranya [14] :
1. Dia akan mendapatkan pahala seperti para nabi yang memiliki
keteguhan hati (ulul-‘azm).[15]
2. Dia akan mendapatkan keberkatan yang sempurna, rahmat dan
petunjuk dari Allah. Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya: “Mereka itulah
yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka
itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [al-Baqarah/2:157]
3. Dia akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Allâh
Azza wa Jalla berfirman yang artinya: “Sifat-sifat yang baik itu tidak
dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan
melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar”
[Fushshilat/41: 35]
4. Dia akan mendapatkan pahala tanpa batas. Allâh Azza wa
Jalla berfirman yang artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah
yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [az-Zumar/39 : 10]
5. Dosa-dosanya akan diampuni oleh Allâh Azza wa Jalla.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ
حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ
Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allâh
membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa [16]
KESIMPULAN DAN FAIDAH DARI
AYAT
1. Ujian pada harta, diri dan agama adalah sunnah
kauniyahpada setiap Muslim.
2. Orang-orang kafir akan selalu mengganggu kaum Muslimin,
baik dengan perkataan ataupun perbuatan
3. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kaum Muslimin agar
mereka bersabar dan bertakwa untuk menghadapi seluruh ujian tersebut.
4. Ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) berbeda dengan kaum
musyrikin. Meski demikian, mereka memiliki kesamaan, yaitu kekufuran dan tempat
kembali mereka di akhirat nanti adalah neraka. Na’ûdzu billâh min dzâlik.
Oleh
Ustadz Sa’id Yai, Lc